RUPIAH JEBOL Rp17.390 PER DOLAR, LEVEL TERLEMAH SEPANJANG SEJARAH

JAKARTA, POSTJKT.CO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali ambruk. Pada perdagangan Minggu 10 Mei 2026, mata uang Garuda ditutup di Rp17.390 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah.Angka ini memperpanjang tren pelemahan rupiah yang sudah babak belur sepanjang pekan. Dalam 5 hari perdagangan terakhir, rupiah tergerus lebih dari 4,2% akibat gempuran ganda: sentimen kebijakan moneter The Fed yang makin hawkish dan kondisi ekonomi domestik yang belum pulih.

KRONOLOGI KEJATUHAN RUPIAH PEKAN INI

Kurs Tengah BIFaktor PemicuSenin 5/5Rp16.780The Fed isyaratkan suku bunga tinggi lebih lamaRabu 7/5Rp17.050Data inflasi AS naik, dolar menguat globalJumat 9/5Rp17.210Capital outflow dari SBN Rp8,3 triliunMinggu 10/5Rp17.390Panic buying dolar, permintaan impor tinggi.

PENYEBAB UTAMA: DIHANTAM DARI LUAR & DALAM
Faktor Global: The Fed Tahan Suku Bunga 6,25% dan sinyal belum akan pangkas hingga 2027. Dolar jadi aset aman, investor cabut dari emerging market. Harga Minyak Brent Tembus $102/barrel akibat konflik Timur Tengah, beban subsidi & impor RI membengkak. Yield US Treasury 10Y Sentuh 5,8%, tarik dana asing keluar dari SBN dan saham RI.Faktor Domestik: Defisit Neraca Dagang April 2026: -$1,7 miliar karena impor pangan & energi melonjak. Cadangan Devisa Turun ke $134,2 M dari $141 M bulan lalu, ruang intervensi BI makin sempit. Sentimen APBN: Belanja bansos & proyek infrastruktur jumbo dinilai pasar berisiko pelebaran defisit.

DAMPAK LANGSUNG KE RAKYAT
Harga Barang Impor Naik: BBM, gandum, kedelai, sparepart, obat, HP. Inflasi pangan terancam tembus 7%. Cicilan Utang Luar Negeri Swasta & BUMN Bengkak. Korporasi dengan utang dolar tanpa hedging mulai kelimpungan. Biaya Umroh & Haji Khusus Naik: Pelunasan dalam dolar, potensi tambahan Rp8–12 juta per jemaah. UKM Importir Menjerit: Bahan baku naik, daya beli turun, PHK mengintai.

TANGGAPAN OTORITAS: BI SIAP INTERVENSI, TAPI PASAR RAGU
Bank Indonesia menyatakan β€œakan selalu ada di pasar” melalui triple intervention: spot, DNDF, dan SBN. Namun analis menilai ruang BI terbatas karena CAD dan cadangan devisa tertekan.Menteri Keuangan belum berkomentar. Pasar menunggu langkah fiskal konkret, bukan sekadar β€œjaga psikologis”

PROYEKSI ANALIS: Rp17.500 DI DEPAN MATA

Jika The Fed tetap hawkish dan harga minyak tak turun, rupiah berisiko ke Rp17.500–Rp17.800 dalam 2 pekan. Level psikologis berikutnya Rp18.000.β€œSelama defisit kembar belum beres dan intervensi BI tak dibarengi perbaikan fundamental, rupiah susah napas,” kata ekonom senior yang enggan disebut namanya.PENUTUPRp17.390 bukan sekadar angka. Ini alarm keras untuk pemerintah: tanpa reformasi struktural dan disiplin fiskal, rupiah bisa jadi korban berikutnya dari badai dolar.Masyarakat disarankan bijak kelola utang valas, tunda konsumsi impor tidak esensial, dan pantau terus kebijakan BI.

#RupiahJebol

#Rp17390

#DolarAS #BI

#TheFed

#KrisisImpor

#EkonomiIndonesiaJakarta, 10 Mei 2026

Redaksi Ekonomi POSTJKT.CO

Disclaimer: Berita ini disusun berdasarkan data pasar dan analisis ekonomi. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab pembaca.

red. Purba