DIDUGA UANG RP358 MILIAR DISIMPAN DI BOTOL AIR MINERAL, EKS WAMEN PERMINYAKAN IRAK DIGEREBEK
BAGHDAD, http://postjktc.co– Kasus korupsi kelas kakap kembali menggemparkan Irak. *Eks Wakil Menteri Perminyakan Bidang Pengolahan, Adnan Al-Jumaili*, resmi jadi tersangka setelah aparat menemukan tumpukan uang tunai fantastis di rumahnya.
Dalam penggerebekan di rumahnya di Tikrit, aparat menyita US$20 juta atau setara Rp358 miliar dengan kurs Rp17.900/US$. Uang sebanyak itu tidak disimpan di bank, melainkan disembunyikan di dalam botol air mineral.
“Uang tunai tersebut disembunyikan di dalam botol air mineral yang disimpan di rumah Adnan Al-Jumaili di Tikrit,” kata Dewan Yudisial Tertinggi Irak seperti dikutip Anadolu Agency, Selasa 7/7/2026
Selain uang tunai, aparat juga mengamankan “sekitar 5 kilogram perhiasan emas” dari kediaman eks Wamen tersebut
Meski detail dakwaan belum dirilis penuh, modus menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di rumah pribadi mengindikasikan upaya, diduga menyembunyikan hasil korupsi” agar tidak terlacak sistem keuangan.
Sektor perminyakan Irak memang kerap jadi sorotan karena rawan penyelewengan. Adnan Al-Jumaili sendiri menjabat sebagai Wamen bidang pengolahan, yang membawahi kilang dan distribusi BBM.
Temuan “uang di botol mineral” ini langsung viral dan jadi bahan sindiran warganet. Banyak yang menyebut ini sebagai bentuk “korupsi gaya baru” untuk mengelabui aparat.
Untuk nominal, ada perbedaan pemberitaan. CNBC Indonesia memberitakan totalnya Rp430 Miliar dalam judul “Rumah Eks Wamen Digerebek, Rp 430 M Disembunyikan di Botol Air Mineral”. Sementara berdasarkan data Dewan Yudisial Tertinggi Irak, jumlah yang diumumkan adalah US$20 juta atau sekitar Rp358 miliar.
Saat ini Adnan Al-Jumaili sudah ditahan dan tengah menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh otoritas anti korupsi Irak. Dewan Yudisial menyatakan akan menelusuri aliran dana dan aset lain yang diduga terkait.
Catatan Redaksi:
Kasus ini jadi pengingat: sektor energi dan sumber daya alam selalu jadi ladang empuk korupsi jika pengawasannya lemah. Transparansi dan audit independen adalah kunci.
_Sumber: Dewan Yudisial Tertinggi Irak via Anadolu Agency, CNBC Indonesia_
—
Red.**






